FOLLOW SEKARANG
FOLLOW SEKARANG

Benarkah di Balik Lagu Viral Mas Bahlil Ganteng Ada Politik Skincare? Ini Kata Henry Indraguna

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mendadak jadi perbincangan publik usai munculnya lagu satire berjudul My Little Bolu Ketan atau MBG (Mas Bahlil Ganteng) di ruang digital.

Bahlil bahkan sampai mencari siapa penciptanya dengan tujuan ingin bertemu, sekaligus mengundang makan bersama. Namun sejauh ini belum ada yang mengklaim ciptaan siapa lagu tersebut.

Mulanya, lagu ini lahir sebagai ekspresi kreatif warganet di ranah sosial media. Hanya saja, sekarang bertransformasi menjadi ruang diskursus publik yang masif.

Lagu tersebut awalnya diciptakan warganet untuk mengkritik dinamika sosial-politik secara jenaka. Namun, makna sebuah konten digital tidak lagi berada di bawah kendali penuh penciptanya.

Di era algoritma, sebuah karya satire mengalami komodifikasi atensi yang sangat cepat. Netizen, tim sukses, hingga figur politik mereproduksi konten tersebut untuk berbagai kepentingan, bisa juga untuk merawat atau mempercantik citra publik agar terlihat menarik atau yang sering disebut sebagai politik skincare.

Menurut Tenaga Ahli DPR RI Prof. Henry Indraguna, sebagian memanfaatkan algoritma itu sebagai alat promosi citra. Sedangkan yang lain menggunakannya sebagai simbol identitas kelompok.

“Di era digital saat ini, media sosial bukan lagi sekadar saluran pasif untuk menyampaikan pesan politik. Sistem algoritma secara aktif membentuk cara masyarakat mengonsumsi, memaknai, dan menyebarkan narasi,” kata Prof Henry di Jakarta, Minggu (31/5/2026).

Dari lagu ini, Bahlil sampai meminta bantuan Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, untuk ikut mencari siapa kreatornya.

“Sosok pemimpin yang mampu memantik kreativitas publik secara organik seperti ini justru mendapat panggung utama karena sistem algoritma secara aktif menangkap interaksi narasi tersebut,” jelas Prof Henry.

Anggota Dewan Pengawas Badan Advokasi Hukum dan HAM DPP Partai Golkar dan Penasehat Ahli Balitbang DPP Golkar ini meminjam pemikiran media Marshall McLuhan, seorang ilmuwan komunikasi dan kritikus asal Edmonton, Kanada dengan diktum terkenal, yang menyatakan bahwa medium memiliki pengaruh lebih besar daripada isi pesan itu sendiri.

“Algoritma media sosial sengaja dirancang tidak netral. Platform digital bekerja dengan mengamati interaksi pengguna seperti suka, komentar, dan bagikan,” jelas Profesor dan Guru Besar Unissula Semarang ini.

Sistem kemudian memprediksi preferensi dan memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat atau kontroversi. Akibatnya, lagu satire yang menghibur jauh lebih cepat viral dibandingkan informasi resmi yang penting tetapi kurang menarik.

Hal ini menciptakan bias informasi yang mempersempit sudut pandang publik di ruang digital.

Sementara itu, Peraih Nobel, Herbert A. Simon menyatakan bahwa ledakan informasi menyebabkan kelangkaan atensi manusia.

Di ruang digital saat ini, perhatian publik adalah sumber daya utama yang diperebutkan.

“Politik yang masuk ke dalam kemasan budaya pop seperti musik dan meme membuat isu politik lebih mudah diterima anak muda. Namun, pendekatan ini juga menyimpan risiko besar terhadap pendangkalan makna,” ujar Henry yang juga Waketum DPP Ormas MKGR ini.

Maka batas antara politik serius dan hiburan menjadi sangat kabur. Persepsi publik sering terbentuk lebih cepat melalui narasi viral daripada melalui klarifikasi resmi.

Doktor Ilmu Hukum UNS Surakarta dan Universitas Borobudur Jakarta ini menyebut bahwa jika ruang digital hanya dipenuhi oleh konten yang sekadar viral maka kualitas demokrasi akan mengalami degradasi. Masyarakat dituntut memiliki literasi digital yang tinggi agar tidak sekadar menjadi konsumen algoritma.

“Satire politik memang efektif sebagai pintu masuk percakapan yang ringan dan mudah diterima publik. Namun, kita harus menjaga agar ruang publik tetap diisi oleh diskusi yang substantif, bukan sekadar komoditas atensi yang menguntungkan platform digital,” ungkap Waketum DPP Bapera ini.

Related Posts

Leave a Reply