FOLLOW SEKARANG
FOLLOW SEKARANG

Stop Degradasi Dosen! Prof Henry Indraguna Dorong Kampus Jadi Rumah Nyaman Intelektual

Pendidikan tinggi di Indonesia patut bersyukur seiring melesatnya sejumlah perguruan tinggi (PT) dalam pemeringkatan World Class University (WCU).

Tahun 2025 mencatat peningkatan signifikan yang ditandai dengan beberapa utama merangsek naik dalam QS World University Ranking.

Kampus-kampus tersebut, antara lain UI, UGM, dan ITB yang masing-masing mampu menembus posisi 206, 239 dan 256 dunia.

Data itu sangat diapresiasi oleh Profesor dan Guru Besar Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang Prof. Dr. Henry Indraguna, SH, MH.

Ia juga menyebut Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) juga layak mendapakan kredit pada pencapaian itu. Rilis dari Kemdiktisaintek mencatat kenaikan peringkat PT Indonesia mencapai 46 persen pada tahun 2025.

“Untuk mempertahankan prestasi itu dalam pandangan saya, Pemerintah harus terus mendorong kolaborasi antar kampus (PTN-BH) untuk memperkuat riset dan reputasi internasional,” kata Henry Indraguna, Jumat (29/1/2026).

Peningkatan peringkat WCU itu, lanjut dia, tentu patut disyukuri, meskipun akan dihadapkan dengan tantangan fenomena senyap di dunia akademik Indonesia yang menyebut banyak dosen yang tidak betah di kampusnya sendiri.

“Beredar cerita banyak dosen yang lebih jamak menghabiskan waktu kegiatan di luar kampus, ada yang menjadi konsultan proyek, pembicara luar, bahkan asyik berbisnis. Bahkan yang ironis lagi harus menarik ojol karena faktor kebutuhan ekonomi dan tiadanya ruang yang lebih memberikan apresiasi terhadap karya intelektual yang mereka miliki,” ujar Henry yang juga Doktor Ilmu Hukum UNS Surakarta dan Universitas Borobudur Jakarta ini.

Ia menegaskan, sejatinya kampus harus menjadi rumah nyaman bagi kaum intelektual, tempat berseminya gagasan dan lahirnyan kreativitas dan inovasi. Dan bukan menjadi ruang administratif yang kaku, apalagi “tak ada darah atau kehabisan darah” untuk membuat terobosan karya intelektualitas.

“Yang terjadi saat ini dosen lebih sering berhadapan dengan tumpukan laporan, beban mengajar yang justru tidak produktif dan atmosfer kerja yang lebih birokratis ketimbang akademis. Akibatnya apa, banyak dosen merasa “tidak tumbuh” di institusi yang seharusnya menjadi ruang subur bagi ilmu pengetahuan,” ungkap dia.

Henry yang juga pakar hukum ini menyebutkan bahwa banyaknya upaya perguruan tinggi yang mengejar status World Class University, seyogianya tidak boleh menjadikan kampus hanya berfokus pada infrastruktur megah, akreditasi internasional, dan publikasi bereputasi semata saja.

Ironisnya, dosen dan peneliti yang menjadi salah satu faktor penting tumbuhnya perguruan tinggi justru sering terlupakan.

“Tanpa dosen yang merasa dihargai dan terlibat secara emosional, visi universitas kelas dunia hanya menjadi slogan kosong,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof Henry memberikan masukan agar dosen betah berada di lingkungan kampus.

“Kampus harus menjadi lingkungan kerja yang sehat dan inspiratif. Ruang dosen yang nyaman, perpustakaan digital dengan akses luas, dan laboratorium riset yang memadai adalah hal mendasar yang harus dipenuhi. Selain itu atmosfer intelektual yang mendorong dosen untuk terus belajar dan berdialog juga harus tercipta secara harmoni,” katanya.

Selain faktor tersebut, Penasehat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar ini mendorong agar di level akademik dibutuhkan pimpinan yang visioner.

“Rektor dan Dekan bukan hanya manajer administratif, tetapi academic leader yang mampu menumbuhkan semangat dan kolaborasi yang membuat dosen merasa suara dan aspirasinya di dengar,” terang Henry.

Dia juga menekankan pentingnya treatment khusus dengan memberikan penghargaan atau award yang manusiawi dan kesejahteraan yang adil.

“Remunerasi layak memang penting. Namun, penghargaan nonfinansial, seperti penghormatan ilmiah, kesempatan studi lanjut, beasiswa, atau keikutsertaan dalam konferensi internasional juga tak kalah bermakna. Terkadang juga Dosen itu ingin dihargai bukan hanya karena output-nya, tetapi karena dedikasi, loyalitas, dan kesetiaan pengabdian kepada ilmu pengetahuan,” bebernya.

Prof Henry juga menyebut dosen harus mendapatkan kesempatan berkembang. “Karier akademik menuntut ruang untuk bereksperimen, meneliti, dan berkolaborasi. Di banyak negara maju, program sabbatical leave menjadi sarana penting untuk penyegaran akademik,” tuturnya.

Di Indonesia, kebijakan ini masih langka, padahal manfaatnya besar untuk produktivitas dan jejaring global.

Sebagai pandangan akhir, Prof Henry menyatakan jika semua faktor itu dijalankan, alhasil akan meningkatkan kepuasan dosen dan sebagai salah satu faktor penting sebagai daya ungkit perguruan tinggi semakin berkembang dan maju, baik di Indonesia maupun dunia.

Related Posts

Leave a Reply